Rumah dinas itu tidak berubah secara fisik. Pagar masih tinggi. Satpam masih berdiri di pos dengan wajah yang sama. Pohon kamboja di halaman masih menjatuhkan bunga putih setiap pagi. Namun ada sesuatu yang bergeser perlahan, nyaris tak kasatmata, membuat Felisha merasa seolah udara di dalam rumah itu menjadi lebih berat setiap harinya. Semua bermula dari bisik-bisik. Awalnya hanya satu dua komentar di media sosial yang menyebut alamat. Lalu foto gerbang yang diambil dari luar pagar. Lalu potongan video pendek yang memperlihatkan mobil keluar-masuk dengan jam yang ditulis seolah-olah laporan. Tidak ada ancaman eksplisit. Tidak ada teriakan. Justru itulah yang membuatnya menakutkan. Teror yang dibungkus dengan opini. Felisha mengetahuinya dari Ratih, asisten rumah tangga yang sudah lama

