Bab 58

1524 Kata

Ruang rapat lantai tiga Gedung Kebudayaan Bandung memiliki jendela besar yang menghadap jalanan Braga. Cahaya pagi masuk menembus kelambu putih, membuat ruangan bergelimang warna keemasan yang lembut. Di dinding tergantung sketsa mural, peta titik revitalisasi kota, dan blueprint rancangan seni visual. Semua disiapkan untuk audiensi besar hari itu. Grari sudah hadir sejak pukul delapan pagi, duduk di ujung meja panjang dengan tumpukan berkas di depan. Tapi ia tidak fokus membaca satu pun. Ia terus menatap jam. Bukan karena jadwal pemerintah. Bukan karena tekanan partai. Bukan karena kunjungan komunitas seni. Melainkan karena sesuatu yang lain: Bayu akan datang. Dan Felisha juga. Ia memijat pelipis pelan, mencoba menahan segala bentuk prasangka yang muncul. Radit masuk sambil memba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN