Bab 59

1483 Kata

Bangunan tua di Dago itu tampak seperti rumah bagi ratusan mimpi yang belum selesai. Cat dindingnya mulai pudar, tetapi pesona bangunan itu justru terasa hidup karena mural-mural hitam putih yang melapisinya dari pagar sampai atap. Di dalam, udara bercampur aroma cat akrilik, kayu lembap, dan kopi hitam yang baru diseduh oleh barista kecil di sudut ruangan. Galeri itu hari ini menjadi tempat pertemuan antara tim kreatif Bayu dan delegasi Bandung, termasuk Grari dan—yang paling penting—Felisha. Felisha berdiri di depan sebuah mural bunga anggrek dengan garis tinta lembut, rambutnya digelung setengah untuk tampilan profesional. Cahaya pagi yang masuk lewat jendela besar memantul di pipinya, membuat wajahnya terlihat tenang, cantik, sekaligus sangat fokus. Ia mengusap bagian tepi mural denga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN