Rumah dinas itu berada di pojok kompleks pemerintahan, dikelilingi pohon flamboyan yang daunnya tertiup angin malam. Lampu-lampu taman menyala lembut, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di tanah seperti hantu kecil yang bersandar pada waktu. Felisha duduk di ruang keluarga, ditemani hanya oleh cahaya kuning temaram dari lampu lantai dan suara detak jam dinding yang terasa semakin keras setiap menit berlalu. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sedih. Tapi karena sedihnya sudah melampaui batas air mata. Setelah Grari meninggalkannya sore tadi, Felisha berjalan masuk ke rumah dalam keadaan separuh terpukul. Ada sesuatu yang runtuh pelan dalam dirinya — bukan kepercayaan, tapi rasa aman. Bukan pada Grari, tapi pada dunia tempat mereka hidup. Ia ingin marah. Ingin protes. Ingin

