Rapat hari itu terasa seperti lari maraton tanpa garis akhir. Sejak pagi, ruang meeting kantor provinsi Bandung tak pernah sepi. Staf silih berganti memaparkan progress proyek sungai kota, data ekonomi mikro, laporan UMKM, hingga isu tentang penataan parkir di area pusat kuliner. Semua meluber di kepala Grari seperti seseorang menuangkan air ke gelas sudah penuh. Ia duduk di meja panjang, jasnya sudah dibuka sejak jam tiga sore, dasinya dilepas dan disampirkan di kursi. Kemeja putihnya kusut oleh waktu dan tekanan. Ia mengusap leher, merasakan sedikit pegal. Mata lelahnya menatap tablet laporan yang belum selesai ia baca. Baru ketika suara pintu diketuk ringan, ia mengangkat kepala. Radit masuk sambil membawa tablet dan map. Wajahnya segar seperti laki-laki yang mandi dua kali, padahal

