Lorong kantor gubernur itu seperti terjebak di antara dua dunia satu dunia penuh cahaya kota Bandung yang tampak dari balik jendela kaca besar, dan satu dunia gelap kekuasaan yang bersembunyi di balik pintu-pintu rapat tertutup. Grari berdiri di tepi jendela itu, memandang keluar, memaksakan dirinya melihat lampu-lampu kota yang bertebaran seperti lautan kunang-kunang. Namun pikirannya tidak berada di sana. Ia berada di rumah, pada wajah Felisha yang tadi sore memandangnya dengan luka yang ia sendiri yang ciptakan. Ia menarik napas panjang, pundaknya sedikit bergetar oleh kelelahan yang menumpuk sejak kunjungan ke galeri tadi siang. Bayangan Felisha yang menunduk diam di dalam mobil kembali menghampirinya tanpa ampun. Dan suara Bayu—tenang, yakin, terlalu ramah—masih menggantung di kepala

