Udara dingin menempel di kulit seperti embun yang enggan jatuh. Felisha menggenggam cangkir kopi panas di tangannya, menatap hamparan perkebunan teh yang bergelombang lembut seperti lautan hijau. Perjalanan dari Bandung memakan waktu hampir dua jam. Sepanjang jalan, Grari terlihat lebih pendiam dari biasanya, tapi ada kehangatan samar yang tidak Felisha temukan sebelumnya. Kejadian di kolam renang seakan membuka pintu kecil dalam diri mereka—meski keduanya belum berani masuk. Begitu mobil berhenti di depan kantor Geothermal Pangalengan, rombongan kecil yang sudah menunggu menyambut dengan hormat. “Selamat datang, Pak Gubernur. Ibu Felisha.” Felisha tersenyum, menunduk sopan. Agenda hari ini padat. Grari akan meninjau instalasi Geothermal—kebanggaan Jawa Barat—sementara Felisha dija

