Hujan masih mengetuk jendela kamar Felisha dengan ritme pelan ketika pintu dibuka dari luar. Felisha duduk di sofa di sisi kamar, memeluk lututnya, rambut masih sedikit basah, tubuhnya diselimuti throw blanket. Matanya bengkak, bukan hanya karena air kolam, tapi karena ketakutan yang baru mereda setengah. “Fel?” Suara itu datang sebelum sosoknya terlihat. Ketika Grari masuk, Felisha mendongak. Pria itu baru selesai diperiksa dokter—jejak stethoscope masih di kulit dadanya yang terlihat dari celah robe, rambutnya sedikit lembap, dan ada perban tipis di keningnya. Ia berjalan pelan lalu duduk di tepi tempat tidur Felisha. Gerakan kecil itu saja membuat Felisha menahan napas. Ia masih terlalu terkejut melihatnya hidup. “Aku… boleh bicara?” tanya Grari, suaranya parau. Felisha mengang

