Tetesan air di dedaunan taman belakang rumah dinas berkilau seperti kaca tipis yang digantungkan di udara. Felisha berdiri di dekat pagar tanaman bougenville, memeluk lengannya sendiri, matanya menatap ujung rumput tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia tidak tidur semalam. Bayangan Vira muncul berkali-kali—cara perempuan itu berjalan, tatapan matanya yang penuh rahasia, dan kalimatnya yang mengatakan: “Dunia Grari tidak aman. Kamu yakin sanggup?” Felisha benci bahwa kata-kata itu mengguncangnya. Benci bahwa ia peduli. Benci bahwa ia mulai jatuh… terlalu dalam. Dan pagi ini, semuanya terasa kacau. Langkah kaki terdengar dari arah koridor. “Fel?” Suara itu dalam. Tenang. Sedikit serak karena bangun tidur. Felisha memejamkan mata. Tidak sekarang. Ia tidak ingin terlihat lemah di ha

