Felisha bangun lebih awal. Ia berdiri di depan cermin, rambut masih terurai lembut, wajah sedikit sembap karena tidur tidak terlalu pulas. Meski begitu, ada sesuatu dalam pantulan matanya yang berbeda: Tekad. Ia tahu hari ini tidak akan mudah. Ia tahu ia harus kuat, meski hatinya masih tercekat akibat api kecil yang meletup semalam. Setelah sedikit makeup natural dan kebaya hijau sage lembut, Felisha turun. Grari sudah menunggunya di ruang makan—masih terlihat letih, tapi lebih tenang daripada malam sebelumnya. Ia memakai kemeja putih dan celana abu gelap, rambutnya tertata rapi, namun ada lingkar samar di bawah matanya. Felisha menghela napas kecil. Ia duduk di kursi seberang. Grari menatapnya sejenak. “Pagi,” katanya, suara rendah. “Pagi,” balas Felisha, tersenyum tipis. Heni

