Bab 33

1600 Kata

Grari melangkah masuk ke ruang kerjanya di rumah dinas. Ruangan itu luas, modern, wangi kayu, tapi bukan itu yang terasa—yang terasa adalah tekanan di dinding-dindingnya. Di mejanya sudah menunggu berkas-berkas tebal: draf deklarasi pemilu tahun depan, proposal koalisi, susunan tim kampanye, dan paling menyakitkan—draft rekomendasi pasangan calon wakil gubernur. Pasangan yang bukan lagi Wakil Gubernur petahana. Pasangan yang dipaksakan partai Haris Jamil. Pasangan yang ia tidak pilih, tidak sukai, dan tidak percayai. Ia duduk perlahan, membuka satu dokumen, membaca satu paragraf, berhenti, menutupnya—seolah setiap kata menambah beban di punggungnya. Radit masuk tanpa banyak suara, membawa dua gelas kopi hitam. “Ini pahit, Pak,” katanya. “Untuk hari yang pahit.” Grari hampa tert

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN