Pagi ini tidak ada Lembang yang penuh kabut, di tempat ini matahari terbit seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan. Laut menghampar biru tenang, angin membawa aroma asin dan rumput basah, dan suara camar terdengar dari kejauhan. Felisha membuka mata lebih dulu. Ia membungkuk sedikit, mengamati Grari yang tidur di sampingnya—wajahnya tenang, tanpa kerut tekanan atau kekhawatiran seperti biasanya. Cahaya matahari merayap ke pipinya, membuat garis rahangnya terlihat lembut. Kemarin malam terasa seperti mimpi yang terlalu manis untuk dipercaya. Cinta yang diakui, sentuhan-sentuhan lembut, cara Grari menggenggam tangannya, cara ia mengatakan that he falls for her—semua menempel di kulit Felisha, seperti cahaya hangat yang tidak mau hilang. Felisha tersenyum pelan. Ia bangun, b

