Pagi di Singapura dimulai dengan embusan angin lembut dari Marina Bay yang masuk lewat celah jendela hotel. Sinar matahari memantul pada bangunan-bangunan kaca, menciptakan gemerlap indah yang memenuhi kamar. Felisha terbangun pertama. Ia duduk pelan di pinggir ranjang, mengikat rambut yang kusut. Wajahnya segar, matanya masih sedikit mengantuk, tapi ada senyum kecil di bibirnya—senyum orang yang merasa aman walaupun di negeri orang. Di sampingnya, Grari masih tidur. Wajahnya jauh lebih muda saat tertidur, tanpa garis-garis tegang politik yang biasa menempel. Felisha menatapnya lama—diam, lembut, penuh cinta yang tidak terburu-buru. Ia menyentuh pipi Grari dengan ujung jari. Grari membuka mata perlahan. “Kamu bangun duluan?” “Kebiasaan,” jawab Felisha lirih. Grari menarik pinggang

