Malam di Singapura seharusnya indah. Dari jendela kamar hotel, Gardens by the Bay bersinar lembut dengan lampu-lampu ungu dan biru. Kota itu berkilau seperti dunia yang tidak pernah mengenal kata “bahaya”. Tapi di kamar hotel lantai 32, hawa berubah menjadi dingin dan berat. Felisha duduk di tepi ranjang, memegang kedua tangannya sendiri. Ponselnya ada di meja, menyala dengan notifikasi pesan dari Bayu yang baru masuk beberapa menit lalu. Fel… aku lihat videonya. Kamu baik-baik aja? Kamu bisa hubungi aku kalau butuh tempat aman. Kalimat itu menancap seperti pecahan kaca. Grari berdiri beberapa langkah di depannya, menatap layar itu dengan rahang mengeras. Wajahnya bukan marah karena cemburu. Bukan pula marah pada Felisha. Ia marah karena seseorang berani memosisikan dirinya seakan

