Felisha terbangun ketika ia merasakan sisi ranjang kosong. Ia bangkit pelan, rambutnya tergerai, mata masih berat oleh sisa tangis semalam. Begitu melihat Grari duduk diam dengan punggung sedikit membungkuk, ia tahu sesuatu telah berubah. “Grari,” panggilnya pelan. Grari menoleh. Wajahnya tenang, terlalu tenang. “Kita pulang hari ini.” Felisha berhenti di tempat. “Sekarang?” “Ada konferensi pers siang ini di Jakarta,” jawabnya. “Aku harus ada di sana. Untuk Reihan.” Nama itu menggantung di udara. Felisha merasakan dadanya mengencang. Ia berjalan mendekat, duduk di lantai, bersandar di kaki Grari, menengadah menatap wajah laki-laki itu. “Aku ikut,” katanya tanpa ragu. Grari menggeleng. “Kamu nggak harus.” “Aku mau,” Felisha menegaskan. “Ini keluarga kamu. Dan kamu… kamu nggak sendir

