Pagi di Jakarta terasa berat oleh kabar semalam, tetapi bagi Grari, pagi itu justru terasa jernih. Ia bangun lebih awal dari biasanya, berdiri di teras rumah dinas dengan secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Udara belum ramai oleh klakson dan teriakan pedagang, seolah kota menahan napas, menunggu langkah berikutnya. Felisha berdiri di belakangnya, bersandar pada kusen pintu. Ia tidak bertanya apa pun. Ia tahu, pagi-pagi seperti ini adalah waktu Grari menyusun sesuatu—bukan dengan emosi, melainkan dengan ketenangan yang lebih berbahaya bagi lawan. “Radit datang jam delapan,” kata Grari tanpa menoleh. Felisha mengangguk. “Aku bikin sarapan.” “Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana, tetapi bagi Felisha, nada Grari pagi itu berbeda. Tidak defensif. Tidak reaktif. Tenang—dan

