Pagi itu tidak dimulai dengan berita besar. Tidak ada judul sensasional. Tidak ada tagar yang menduduki puncak linimasa. Justru karena itulah Grari tahu, sesuatu sedang bekerja. Ia duduk di ruang kerja dengan jendela terbuka, membiarkan suara kota masuk tanpa diundang. Jakarta pagi hari selalu gaduh, tetapi hari itu gaduhnya terasa berbeda. Lebih jauh, lebih samar, seperti riuh yang tidak lagi mengarah tepat ke namanya. Felisha menaruh secangkir teh di meja, menyelipkan sepotong roti panggang ke piring kecil, lalu duduk di kursi seberang. Mereka tidak berbicara. Tidak perlu. Ada ritme yang mulai mereka pahami satu sama lain. Radit datang sedikit terlambat, bukan karena macet, melainkan karena ia memilih memutar rute. “Aku tidak mau terlihat buru-buru,” katanya sambil menutup pintu. “Ada

