Felisha berbaring sambil menahan rasa sakit di pergelangan kaki, sementara Grari duduk di lantai, bersandar pada ranjang dengan tubuh sedikit membungkuk. Sejak ia membawa Felisha kembali ke kamar, pria itu tidak bergerak jauh. Ia menolak berdiri, menolak pergi, bahkan menolak menyuruh staf menunggu. Ia memaksa tetap di sana, di samping Felisha—seolah memastikan dunia tidak mengambilnya sekali lagi. Wajah Grari terlihat lelah, tetapi matanya tidak lepas dari istrinya. Felisha mengusap pipinya dengan punggung tangan, menyingkirkan air mata yang belum mengering seluruhnya. Suasana penuh ketegangan yang tertahan. Ada banyak hal yang ingin keluar, tapi keduanya masih bingung dari mana harus memulai. Felisha menarik napas pelan, lalu memejamkan mata, mencoba mengumpulkan kekuatan. Tapi Grari m

