Pagi itu dimulai dengan notifikasi yang datang beruntun, seperti hujan kecil yang awalnya terdengar biasa, lalu berubah menjadi deras. Felisha baru selesai menyeduh kopi ketika ponselnya bergetar tanpa henti. Ia tidak langsung membuka. Ada firasat yang membuat jemarinya menunda, seolah ia sudah tahu apa yang akan ia temukan. Di ruang kerja, Grari sedang membaca laporan harian ketika Radit mengetuk pintu tanpa menunggu jawaban. Wajahnya tegang, bukan panik, tapi cukup untuk menandai bahwa sesuatu telah bergerak. “Pak,” kata Radit singkat, “mereka mulai mainkan narasi lama.” Grari menutup map perlahan. “Narasi apa.” Radit menyerahkan tablet. Layar menampilkan judul-judul yang terasa seperti potongan masa lalu yang dihidupkan kembali tanpa izin. “Jejak Asmara Calon Gubernur Sebelum Menik

