Matahari di Pamanukan jatuh temaram di balik garis laut ketika rombongan tiba di halaman penginapan sederhana yang dijadikan tempat singgah. Udara pantai membawa angin asin yang seharusnya menenangkan, tapi bagi Felisha, setiap hembusannya justru terasa menggigit. Hari itu melelahkan. Bukan karena kampanye, bukan karena perjalanan. Tetapi karena jarak. Jarak yang ia ciptakan. Dan jarak yang Grari tidak mengerti. Sejak tiba di titik kampanye pertama—balai nelayan tua yang dipenuhi puluhan warga—Felisha tetap berada satu langkah di belakang Grari. Tidak menyentuh lengan bajunya saat menaiki panggung, tidak membenarkan mic yang miring seperti biasanya, tidak menatapnya saat ia menanggapi keluhan warga. Ia seperti bayangan. Ada, tapi hampa. Dan Grari melihat itu. Setiap detik. ***

