Angin membawa aroma tanah basah yang hangat, dan suara tawa kecil dari anak-anak yang sedang dilewati oleh orang tua berjalan kaki menambah ritme santai pagi itu di Taman Lansia daerah Cilaki. Tepat sebelah Gedung Sate. Felisha dan Sheila berjalan berdampingan di jalan setapak berkerikil, langkah mereka selaras—satu dua tiga—sambil sesekali menyingkirkan rambut yang ditiup angin ke belakang telinga. Sheila lebih santai: kemeja oversized, jeans robek halus di lutut, sneakers putih yang hampir selalu terlihat bersih. Wajahnya yang ramah selalu punya energi hangat yang membuat orang di dekatnya merasa mudah bicara. Felisha melihat sahabat baru yang ia pilih sebagai saudara angkat—bukan hanya karena Sheila adik iparnya, tapi karena Sheila benar-benar ingin dekat. “Kamu suka kesini?” tanya Sh

