Amara hendak merebahkan dirinya di atas kasur di apartemen Evan tapi Evan melarangnya. “Diganti dulu spreinya.” Dan saat Amara hendak mengambil sprei untuk menggantinya, Evan kembali melarangnya. Dia sendiri yang menarik sprei lama dan menggantinya dengan yang baru. “Mas gak ke kampus kan hari ini?” Amara menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong agar Evan ikut merebahkan diri di sampingnya. “Gak. Udah telat.” Amara merapatkan tubuhnya. Tadinya, ia ingin pulang ke rumah orang tuanya. Tapi, mendapati aura dingin Evan setelah bertemu Robby, ia memilih apartemen yang lebih privat untuk mereka berdua. “Jangan marah, Mas. Aku beneran gak sadar waktu dibawa ke ruangan dokter Robby.” Evan menghela napas. “Aku gak marah soal itu.” “Beneran?” “Aku gak suka cara dia melihat dan berbicara tentan