Selepas Robby berpamitan, Amara meraih tangan Evan yang berdiri di dekatnya. “Mas mau ke kampus?” Evan yang tadinya sudah yakin akan ke kampus dan menitipkan istrinya pada ibu mertuanya seketika menjadi ragu. “Aku tunggu doktermu datang saja. Bapak barangkali ada yang harus diurus di Jogja, jalan dulu saja ndak apa-apa. Saya nanti pakai KRL.” “Sudah di sini. Biar bareng saja nanti. Urusan Bapak bisa menunggu.” “Biar saya tanya dokternya visit ke sini jam berapa,” Evan keluar menuju nurse station. Mencoba menanyakan dokter yang merawat istrinya akan visit jam berapa. “Ada apa? Kenapa buru-buru? Dokter Maria sudah jalan tadi saya lihat. Mungkin sebentar lagi akan sampai di ruangan Amara,” Robby muncul tiba-tiba dengan sikap bossynya, sungguh berbeda dengan yang ditunjukkannya tadi. Pa