Evan tengkurap di atas kasur sambil menerima pijatan istrinya. Punggungnya terasa kaku. Dulu mungkin ia kerap melalukan perjalanan keluar kota dengan menggunakan motornya. Bukan karena hobby touring menggunakan motor, melainkan karena itulah alat transportasi terhemat yang ada. Tapi sekarang, ia harus bertempur dengan tubuhnya sendiri. Meski tenaga Amara sebenarnya tak seberapa untuk memijat, tapi setidaknya itu cukup untuk membuat otot-otot Evan menjadi lebih rileks. Terlebih setelah tadi ia sempat jengkel dengan Haryo dan Maya yang melimpahkan tugas pembimbingan mahasiswa dengan seenaknya padanya. “Ra, bangunkan kalau mau maghrib ya,” ucap Evan di ujung kantuknya. “Iya,” sahut Amara sambil memindahkan pijatannya pada kaki Evan. Setelah Evan tertidur, Amara berpindah duduk di dekat ke