BAB 17. Tentang Mikhayla

1532 Kata

“Cepat sana kerjakan, Mikha!” “Nggak mau ah! Mama saja lah! Mama kan istrinya!” Suara Mikha tidak kalah tinggi dengan sang mama. “Sudah jangan bantah! Kerjakan atau kartu kreditmu Mama sita!” Arini berkacak pinggang. Mikha menghentakkan kedua kaki di lantai. Kesal sekali. “Tapi kan—jijik, Ma! Lagian kemana sih Bi Rina pergi lama banget?” “Bi Rina lagi Mama suruh belanja sayuran dan isi kulkas. Dan nanti setelah pulang mau langsung masak. Makanya, kamu saja! Cepat sana, ah! Dia sudah bau tuh!” Di dalam kamar, Bimantara menitikkan air mata. Dia memang terbaring lemah di ranjang, tapi telinganya masih bisa mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Itu tentang dirinya. Otaknya yang masih berfungsi meskipun tidak lagi seratus persen, seketika memikirkan sang putri tersayang. Yang selama i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN