Hujan masih turun dengan ritme yang sama, seakan tidak berniat berhenti. Victoria duduk tenang, kedua tangannya melingkari cangkir hangat di depannya. Matanya sesekali menatap jalanan yang kosong, sesekali memperhatikan percikan air yang memantul di aspal. Ada rasa damai yang jarang dia dapatkan, dan untuk beberapa menit dia membiarkan dirinya larut di sana. Alex berbeda. Sejak duduk, bahunya tidak benar-benar rileks. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di titik-titik tertentu. Dia menatap api di tungku perapian lebih lama dari seharusnya, seperti sedang bernegosiasi dengan pikirannya sendiri. “Aku capek,” ucapnya tiba-tiba. Victoria tidak langsung menoleh. Dia hanya mengangguk kecil, memberi ruang agar Alex melanjutkan jika mau. “Bukan capek kerja,” lanjut Alex, suaranya rendah. “

