“Kamu gapapa kan, Sayang?” Kai membolak-balik tubuh Senja dengan wajah khawatir. “Gak ada yang luka kan?” mengabaikan keponakannya yang masih terisak di atas pangkuan Handaru. Lagipula, sejak kapan Kai dan Senja terikat dalam sebuah hubungan, sampai panggilan Kai berubah menjadi sayang? Senja sedang merutuki dirinya sendiri. Bodoh karena telah menghubungi Kai saat panik tadi. Harusnya dia menghubungi Langit. “Sayang—” “Kai,” tegur Senja dengan mata melotot. “Ubah panggilan!” Wajahnya memanas saat menyadari Handaru menatapnya sambil mengulum senyum. Pria itu memang tak berkomentar apa pun, tapi Senja tahu—sekretaris Kai pasti sedang menertawakan nya dalam hati. “Kenapa?” tanyanya polos. Entah beneran polos atau sedang pura-pura? Senja tak mampu menebak. “Selama perjalanan ke sini ak

