Hujan turun tiba-tiba tanpa ampun. Dalam sepersekian detik, Jonathan meraih pergelangan tangan Zee dan menariknya, berlari kencang mencari perlindungan. Napas mereka terengah saat akhirnya terdampar di sebuah gazebo kecil yang reyot. Hujan yang mencurahkan diri dari langit itu begitu hebat hingga membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik. “Astaga, deras sekali!” seru Zee, berusaha keras mengibaskan tetesan air dari rambut dan bajunya. “Kita berteduh di sini dulu. Tidak mungkin menembus hujan sederas ini,” jawab Jonathan. “Iya,” balas Zee, suaranya sedikit bergetar karena dingin. Kaos putih tipis yang dikenakan Zee kini melekat erat, kain basah itu berubah transparan, menampakkan samar siluet bra berwarna merah muda di baliknya. Warna cerah itu kontras dengan kulitnya yang pucat k

