Zee berlari membabi buta menuju area parkir, penglihatannya kabur oleh air mata. Begitu melihat sebuah tempat sampah besar di sudut lorong, tanpa ragu ia langsung mengempaskan kantong kertas di tangannya ke dalam sana. Semua perhatian dan kasih sayang yang ia siapkan pagi ini mendadak terasa seperti sampah yang menjijikkan. "Zee!" Suara Jonathan kembali menggelegar, pria itu ternyata belum menyerah mengejarnya. Namun, Zee sudah mencapai mobilnya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan mesin dan langsung memacu kendaraannya pergi, meninggalkan Jonathan yang terengah-engah dalam keputusasaan. Teriakan pria itu perlahan menghilang, tertelan deru mesin dan isak tangis Zee yang pecah di dalam kabin. Jonathan berhenti berlari saat mobil Zee menghilang di balik gerbang parkiran. Napasnya membur

