"Ayo kita menikah, Jo. Sebelum perutku membesar," bisik Sella, kembali melingkarkan lengannya di tubuh Jonathan, memeluknya dengan kemesraan yang seolah tanpa beban. Jonathan tidak lagi memberontak. Ia hanya mematung, membiarkan tubuhnya dipeluk meski jiwanya terasa kosong. Pikirannya buntu, berusaha keras mencerna informasi yang baru saja menghantam seluruh logika dan dunianya. "Sudah berapa bulan?" tanya Jonathan akhirnya. Suaranya rendah, sedikit bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan. "Dua bulan ... aku sudah mulai sering mual, Jo," sahut Sella, mengeratkan pelukannya dengan nada manja. "Tapi aku harus bertahan. Tinggal dua minggu lagi jadwal syutingku rampung. Setelah itu, aku berencana rehat total sampai anak kita lahir." "Aku sangat lelah ... aku ingin tidur. Aku b

