Di bawah sorot lampu kamera yang menyilaukan, Sella Anastasya duduk dengan raut wajah sendu yang tampak begitu meyakinkan. Didampingi Luna, sang manajer, serta Cindy, penata busana barunya, Sella memainkan perannya dengan sempurna seolah dialah korban paling menderita di dunia. Luna, yang duduk tepat di sampingnya, hanya bisa membatin, menahan rasa muak melihat sandiwara sang artis yang begitu lihai memanipulasi keadaan. “Sebelumnya, saya mohon maaf karena telah membuat rekan-rekan media menunggu,” ucap Sella dengan suara bergetar. Ia menghela napas panjang, sengaja mengedipkan matanya berkali-kali agar air mata mulai menggenang di pelupuk. “Saya di sini ingin mengklarifikasi soal pernyataan mengenai hubungan saya yang sempat saya ungkapkan sebelumnya.” Sella menjeda kalimatnya, menghir

