Zee melangkah kembali ke ruang tengah dengan kotak P3K di tangan. Di sana, di atas sofa, David dan Jonathan duduk dengan jarak yang lebar, namun atmosfer di antara mereka terasa begitu menyesakkan karena aura rivalitas yang pekat. “Aku seorang dokter, Zee. Berikan padaku, biar aku yang mengobatinya,” tawar Jonathan tiba-tiba. Suaranya terdengar dingin, namun sorot matanya yang tajam mengkhianati rasa cemburunya. Ia hanya tidak sudi membiarkan Zee berada terlalu dekat dengan David. David mendengus kasar, ia langsung menjauhkan wajahnya. “Gue nggak sudi tangan lo menyentuh muka gue. Bisa-bisa luka gue sengaja lo bikin makin parah,” tolak David dengan nada menghina. BRAK! Zee menghantamkan kotak obat plastik itu ke atas meja dengan kekuatan yang mengejutkan. Suaranya bergema di seluruh r

