"Ini urusanku dengan Sella. Papa tidak perlu ikut campur," desis Jonathan dengan suara rendah yang sarat akan ancaman. Tanpa menunggu balasan dari Aditya, ia melangkah lebar menghampiri Sella. Matanya berkilat tajam, mengunci pergerakan wanita itu. "Ayo kita bicarakan berdua," tuntutnya. Sebelum Sella sempat mengelak, jemari kokoh Jonathan sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar, menyeretnya paksa menuju kamar. Aditya hanya bisa berdiri mematung, matanya terbelalak menyaksikan putra sulungnya yang kehilangan kendali. Ia ingin bersuara, namun pemandangan itu seolah membungkam lidahnya. BRAK! Pintu kamar terbanting begitu keras hingga gema benturannya seolah menggetarkan dinding. Sella tersentak, bahunya menciut saat ia dilemparkan masuk ke dalam ruangan. Ia menunduk dalam-

