Bab 43

1613 Kata

BAB 43: Di Antara Dua Pintu Zayn melangkah gontai menuju deretan kursi tunggu yang kosong. Ia tidak duduk, melainkan bersimpuh di lantai rumah sakit yang dingin. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga dahinya menyentuh ubin. Di sana, dalam posisi yang paling rendah sebagai manusia, Zayn membiarkan pertahanannya runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan demi terlihat kuat di depan Juleha, kini mengalir deras membasahi lantai. Ia teringat bisikan Juleha sesaat sebelum bius membawanya pergi: “Selamatkan mereka, Hubby. Berjanjilah padaku...” Kata-kata itu terasa seperti belati. Juleha sudah menyerahkan hidupnya bahkan sebelum pisau bedah menyentuh kulitnya. Ia sudah merelakan dirinya hilang asalkan kedua putrinya bisa bernapas. "Kau egois, Jule..." bisik Zayn parau di sela isakannya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN