Bab 44

1227 Kata

Malam di rumah sakit itu bukan lagi sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah masa yang membeku. Zayn duduk bersandar pada dinding koridor yang dingin, tepat di titik tengah antara ruang ICU dan NICU. Di saku bajunya, ia masih menyimpan perban mata yang ia lepas dengan paksa beberapa jam lalu. Kini, matanya yang lelah menatap kosong ke arah lantai, merekam setiap bayangan perawat yang lewat dengan langkah terburu. Dunia seolah runtuh menjadi kepingan yang tajam. Di satu sisi, ada Juleha yang masih terbaring kaku dengan selang-selang mesin yang mengambil alih fungsi hidupnya. Di sisi lain, ada dua bidadari kecil yang masih berjuang untuk sekadar mendapatkan satu tarikan napas di dalam kotak kaca. *** BAB 49: Persimpangan Takdir Keheningan malam itu tiba-tiba pecah oleh bunyi alarm dari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN