BAB 45: Cermin di Mata Zayn Cahaya lampu ICU temaram, hanya suara tit... tit... tit... dari monitor jantung yang mengisi kekosongan. Juleha mencoba menggerakkan kelopak matanya yang terasa seberat timah. Perlahan, penglihatannya yang kabur mulai fokus. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata. Mata yang jernih, berwarna cokelat gelap, dan dipenuhi genangan air mata. Mata itu menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa menembus sukmanya. Juleha tersentak kecil. Ia baru sadar. Zayn tidak memakai perban. Seketika, memori malam itu kembali. Zayn yang melepas perbannya, Zayn yang menggendongnya, dan kenyataan bahwa suaminya bisa melihat selama ini. Juleha refleks mencoba mengangkat tangannya yang lemah untuk menutupi wajahnya. Ia merasa telanjang. Ia merasa buruk rupa. Di kepalanya,

