Udara di perbukitan belakang pesantren terasa tipis dan kering. Dari balik rimbunnya pohon-pohon jati yang meranggas, Aisyah melihat punggung Ghara yang berjalan tenang menuju sebuah gubuk kosong yang biasanya digunakan petani untuk berteduh. Tiga pria dengan jaket gelap dan penutup wajah sudah menunggu di sana. Salah satu dari mereka memegang laras panjang yang disembunyikan di balik kain sarung. Aisyah merayap di antara semak-semak, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada para pria itu, tapi karena takut kehilangan pria yang baru semalam memberikan seluruh jiwanya padanya. "Kau datang tanpa membawa benda itu, Dokter?" suara salah satu pria itu terdengar berat dan parau, bergema di antara pepohonan. "Aku datang

