Malam di Pesantren Hidayatullah kian merambat sunyi. Hanya suara detak jam dinding di sudut kamar yang setia menemani hening, beradu dengan suara napas Zayn yang teratur. Namun, bagi Juleha, keheningan ini justru membuat setiap inci rasa sakit di tubuhnya terdengar begitu nyaring. Ia berbaring memunggungi Zayn, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar berat. Namun, rasa nyeri di punggungnya—titik di mana luka-lukanya mulai meradang kembali karena beban kehamilan kembar yang kian menekan tulang belakangnya—terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum panas. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya di balik cadar tidurnya yang tipis. *** Juleha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia tidak boleh bersuara. Ia tidak ingin membangunkan Zayn. Di sampingnya, ia bisa merasakan hangat tubuh su

