Bab 41

1149 Kata

Malam itu, kesunyian di Pesantren Hidayatullah terasa begitu mencekam, seolah-olah alam semesta pun ikut menahan napas menyaksikan sebuah rahasia besar yang sedang berada di ujung tanduk. Kamar Gus Zayn tidak lagi hanya beraroma wangi melati, tetapi bercampur dengan bau anyir yang samar namun tajam—bau yang selama ini berusaha keras disembunyikan Juleha di balik kain-kain hitamnya. Juleha berbaring miring, tubuhnya meringkuk kecil di bawah selimut tebal. Di dalam rahimnya, kedua bayi perempuan mereka bergerak aktif, namun setiap gerakan itu kini terasa seperti hantaman yang menyiksa tulang punggungnya. Keringat dingin mengalir deras, membasahi cadar tidurnya hingga kain itu menempel lekat di wajahnya yang kian tirus. Zayn duduk di sampingnya, masih mengenakan perban putih yang melilit ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN