BAB 39: Simfoni di Atas Pangkuan Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, suasana di pesantren sedang sangat tenang. Santri-santri sedang libur ziarah, meninggalkan kediaman Gus Zayn dalam kesunyian yang menenangkan. Sore itu, udara terasa sejuk setelah hujan rintik membasahi dedaunan jeruk di samping rumah. Zayn duduk di sofa panjang ruang tengah, bersandar pada bantal empuk. Juleha mendekat dengan langkah pelan, membawa sepiring potongan buah semangka dingin kegemaran suaminya. "Hubby, makanlah sedikit. Ini sangat segar," ucap Juleha. Zayn tidak langsung meraih piringnya. Ia justru mengulurkan tangan, mencari pinggang Juleha dan menariknya lembut agar duduk di sampingnya. "Duduklah dulu, Humaira. Buahnya bisa menunggu, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk memelukmu."

