BAB 22: Sepiring Mie dan Kecupan Semesta Juleha tertawa—tawa lepas pertamanya sejak sekian lama. Ia naik ke boncengan, melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang Zayn. Motor itu menderu, membelah jalan setapak menuju hutan jati yang rimbun. Sepanjang jalan, Juleha menyandarkan kepalanya di punggung lebar Zayn. Angin hutan yang segar menerpa wajah mereka. Bau tanah basah dan daun jati yang berguguran menciptakan suasana romantis yang tak pernah Juleha bayangkan sebelumnya. Ternyata, bahagia itu sederhana; tidak perlu musik EDM yang memekakkan telinga, cukup deru mesin motor tua dan pelukan pada orang yang tepat. Zayn membawa Juleha ke sebuah sungai kecil dengan air yang sangat jernih di tengah hutan jati. Di sana, Zayn sudah menyiapkan tikar kecil dan keranjang berisi bekal. "Zayn, in

