Bab 23

1020 Kata

Pagi itu, udara di hadapan Pesantren Hidayatullah terasa sangat segar. Sisa embun masih menempel di dedaunan jati, menciptakan aroma tanah yang menenangkan. Juleha duduk bersila di atas sajadah di ruang tengah, sementara Zayn berada di hadapannya, memegang sebuah kitab kecil berisi kumpulan doa dan zikir. Sejak kejadian "mie instan tengah malam" itu, Juleha merasa tembok di antara mereka benar-benar telah runtuh. Ia kini tidak segan lagi bertanya tentang hal-hal yang dulu ia anggap membosankan. "Zayn," panggil Juleha sambil menunjuk sebuah barisan ayat di buku panduannya. "Ini ayat apa? Tulisannya pendek, tapi kok rasanya enak banget dibaca. Dan aku sepertinya pernah mendengarnya. Salamun 'ala Nuhin fil 'alamin." Zayn tersenyum, matanya berbinar melihat ketertarikan Juleha yang tulus. I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN