BAB 48: Luka di Balik Kata Di dalam ruang Kepala Sekolah, suasana terasa tegang. Seorang anak laki-laki bertubuh lebih besar dari Aisyah duduk di kursi seberang dengan kompres es di pipinya yang membiru. Ibunya, seorang wanita dengan perhiasan mencolok, tampak sangat marah. "Gus Zayn, saya menghormati jenengan sebagai ulama. Tapi lihat perbuatan putri jenengan! Anak saya dipukul sampai memar begini!" teriak wanita itu. Zayn menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Aisyah. "Aisyah, apa benar kamu yang melakukannya?" Aisyah menatap mata Abinya. Tidak ada ketakutan di sana, hanya api yang berkobar. "Benar, Abi. Aisyah yang pukul dia. Dan kalau dia ulangi lagi, Aisyah akan pukul lebih keras!" "Aisyah!" tegur Zayn, suaranya rendah namun tegas. "Bicara yang sopan. Kenapa kamu melakukan itu

