BAB 49: Cabang di Pohon yang Sama Zayn berdiri di depan jendela kamarnya, menatap nisan Juleha yang kini telah dinaungi rimbunnya pohon melati. Di tangannya ada dua lembar surat permohonan izin dari kedua putrinya. Satu surat berisi permohonan izin untuk mengabdi di sebuah desa terpencil di perbatasan yang sedang dilanda konflik agraria dan krisis kemanusiaan. Satu lagi berisi permohonan untuk mendirikan balai pengobatan gratis di dalam pesantren. Zayn menghela napas panjang. Dua surat itu adalah cerminan dari satu jiwa yang terbelah. Aisyah Humaira tidak pernah bisa diam dalam zona nyaman. Baginya, tembok pesantren yang aman adalah penjara bagi semangatnya yang membara. Ia tumbuh menjadi wanita dengan fisik yang tangguh; ia menguasai bela diri dan memiliki ketahanan mental yang luar bi

