BAB 47: Di Bawah Langit yang Sama Melihat kedua putrinya terlelap dengan sisa air mata yang mengering di pipi setelah menanyakan keberadaan sosok ibu, Zayn merasakan sesak yang tak kunjung usai. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah membawa beban rindu yang kini ia bagi bersama dua nyawa kecil itu. Ia melangkah pelan keluar dari kamar, menuju serambi rumah yang menghadap langsung ke arah kompleks pemakaman keluarga di belakang pesantren. Malam kian larut, dan Pesantren Hidayatullah mulai diselimuti kabut tipis. Zayn duduk di kursi kayu panjang, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. Ia teringat masa-masa di mana ia harus belajar menjadi segalanya bagi Aisyah dan Fathimah. Bagi Zayn, tahun-tahun pertama setelah kepergian Juleha adalah sebuah labirin tanpa ujung. Ia sering kali t

