Bab 14: Radar Agresif Sang Ustadz huekk huekkk... hampir setengah jam Juleha berusaha memuntahkan semua isi perutnya. ... Dinginnya lantai keramik kamar mandi merambat ke kulit Juleha, namun ia tak peduli. Juleha meringkuk di depan wastafel, wajahnya yang biasanya cerah kini pucat pasi, nyaris menyerupai warna porselen di hadapannya. Perutnya rasanya seperti diaduk-aduk oleh mesin cuci dengan kecepatan tinggi. "Nggak mungkin, kan?" bisiknya lirih, suaranya parau. Ia memegangi perutnya yang terasa kembung, mencoba mencari logika di balik rasa tidak nyaman ini. Dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi kalender di ponselnya. Jari-jarinya menelusuri tanggal demi tanggal hingga ia terhenti pada satu kenyataan pahit: ia sudah terlambat dua minggu dari siklus biasanya. Jantung Juleha me

