BAB 36: Aroma Mawar di Ujung Penantian Sentuhan Juleha di kancing kemeja Zayn pagi itu terasa lebih lama dari biasanya. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati setiap inci kain yang bersentuhan dengan jemarinya, juga hangat tubuh Zayn yang merambat pelan. Keajaiban air Zam-zam itu benar-benar memberikan jeda pada rasa sakitnya, seolah-olah maut sedang berbaik hati memberinya waktu untuk berpamitan secara halus. *** Kamar mandi itu mulai dipenuhi uap hangat. Juleha sengaja menumbuk beberapa helai daun pandan dan mencampurnya dengan air mawar yang tersisa di botol kecil dekat wastafel. Ia ingin sore ini Zayn tidak mencium aroma obat atau amis darah, melainkan aroma surga yang paling ia cintai. "Ayo, Zayn... pelan-pelan," bisik Juleha sambil menuntun tangan Zayn menuju kursi kayu kecil di ten

