Juleha hanya tersenyum getir di balik kain hitamnya. Ia tahu Zayn hanya mencoba menguatkannya. Ia juga tahu, setiap kali ia merasa mual atau lemas, Zayn sebenarnya merasakannya meski suaminya itu tak bisa melihat. Pagi itu, di kamar yang sunyi, dua insan itu saling mendekap dengan perasaan yang bertolak belakang. Zayn dengan harapan baru yang membuncah, dan Juleha dengan keteguhan hati seorang ibu yang siap menukarkan nyawanya demi kehidupan yang baru saja dimulai. *** Pagi-pagi sekali, saat embun masih betah menempel di kaca jendela, Juleha sudah terbangun. Ia tidak langsung beranjak. Ia berbaring miring, menatap wajah Zayn yang masih terlelap di sampingnya. Kasa di mata Zayn sedikit miring, memperlihatkan gurat lelah di wajah suaminya. Juleha meraih tangan kanan Zayn yang terkulai di

