BAB 35: Barisan yang Tak Terlihat Langkah kaki mereka terdengar berirama di atas paving blok menuju masjid pesantren. Juleha berjalan dengan d**a membusung, seolah-olah ia adalah tameng baja yang melindungi suaminya. Namun, di balik gamisnya, keringat dingin membasahi kain kasa yang membalut luka-lukanya. Rasa panas yang membakar kulitnya ia lawan dengan zikir yang tak putus di dalam hati. Zayn berjalan dengan tangan bertumpu berat di bahu Juleha. Langkahnya ragu, sesekali kakinya terseret, persis seperti seseorang yang dunianya baru saja dirampas oleh kegelapan. "Kita sudah sampai di pintu masjid, Zayn. Ada satu anak tangga kecil... ya, pelan-pelan," bisik Juleha tepat di telinga suaminya. Zayn mengangkat kakinya dengan canggung, hampir saja ia kehilangan keseimbangan jika Juleha tida

