BAB 52: Malam yang Berbeda Menjelang sore, mereka akhirnya keluar dari gedung dengan membawa selembar surat tanda terima dan janji penangguhan sementara penggusuran. Meski belum menang sepenuhnya, ini adalah kemajuan besar. Saat berjalan menuju motor, mereka berpapasan dengan seorang pria muda dengan kamera menggantung di lehernya. Ia tampak seperti aktivis atau wartawan lokal. "Aisyah! Kamu berhasil?" tanya pria itu dengan nada antusias. Ia mendekat dan refleks memegang bahu Aisyah dengan akrab. "Kami sudah dengar kabar kalian terjebak badai semalam. Kami sangat khawatir." Aisyah tersenyum lebar—senyum yang murni karena lega. "Iya, Mas Irfan. Ini suratnya. Tolong sampaikan ke tim bantuan hukum di kota." Ghara, yang berdiri di samping mereka, tiba-tiba merasa atmosfir di sekitarnya me

